Tuesday, March 3, 2015

Laporan Praktikum Kimia_Titrasi Asam Basa Kuat


1.    Judul                       : Titrasi asam kuat basa kuat
2.    Tujuan                    :
· Untuk menentukan kemolaran HCl melalui larutan NaOH 0,5 M
· Untuk memahami, mengetahui, dan menentukan konsentrasi asam/basa melalui titrasi
· Mengetahui molaritas suatu asam basa dengan menggunakan metode titrasi asam-basa
3.    Landasan Teori
Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya. (disini hanya dibahas tentang titrasi asam basa).
Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai “titer” dan biasanya diletakkan di dalam “buret”. Baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan.
Titrasi asam basa disebut juga titrasi adisi alkalimetri. Kadar atau konsentrasi asam basa larutan dapat ditentukan dengan metode volumetri dengan teknik titrasi asam basa. Volumetri adalah teknik analisis kimia kuantitatif untuk menetapkan kadar sampel dengan pengukuran volume larutan yang terlibat reaksi berdasarkan kesetaraan kimia. Kesetaraan kimia ditetapkan melalui titik akhir titrasi yang diketahui dari perubahan warna indicator dan kadar sampel untuk ditetapkan melalui perhitungan berdasarkan persamaan reaksi.
Titrasi asam basa merupakan teknik untuk menentukan konsentrasi larutan asam atau basa. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi asam basa (netralisasi). Larutan yang kosentrasinya sudah diketahui disebut larutan baku. Titik ekuivalen adalah titik ketika asam dan basa tepat habis bereaksi dengan disertai perubahan warna indikatornya. Titik akhir titrasi adalah saat terjadinya perubahan warna indikator.


4.    Alat dan Bahan      :
Ø  Alat :
o  Pipet tetes
o  Gelas ukur
o  Statif
o  Corong
o  Erlenmeyer (2 buah)
o  Buret dan keran buret
o  Klem
Ø  Bahan 
o  Larutan HCl
o  PP
o  Larutan NaOH (0,5 M)
o  Air murni
5.    Cara kerja   :
1)   Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk praktikum.
2)   Bersihkan buret dengan air murni/aquades.
3)   Setelah bersih, masukkan 5 tetes PP dengan menggunakan pipet tetes ke dalam Erlenmeyer.
4)   Tuangkan 25 ml HCl kedalam Erlenmeyer yang sudah dimasukin 5 tetes PP.
5)   Lalu, masukkan NaOH 0,5M ke dalam buret sebanyak 50 ml dan dibawah buret diletakkan Erlenmeyer yang sudah ditetesi 5 tetes PP dan 25 ml HCl.
6)   Amatilah, perubahan warna HCl yang telah di tetesi NaOH dari buret tersebut. Hingga berwarna pink atau merah muda.
7)   Lakukanlah hal tersebut berulang sebanyak 3 kali. Lalu, catat hasil pengamatan pada tabel.
6.    Data Pengamatan
Titrasi
Volume NaOH (ml)
Volume HCl (ml)
1
5,5
25
2
5
25
3
6
25


7.    Analisis Data
Titrasi adalah cara analisis tentang pengukuran jumlah larutan yang di butuhkan untuk bereaksi secara tetap dengan zat yang terdapat dengan larutan lain.
Pada percobaan kali ini, kami melakukan praktikum titrasi antara asam kuat dan basa kuat yaitu :
HCl + NaOH → NaCl + H2O
Titrasi I
Dalam percobaan yang pertama ini, langkah yang dilakukan adalah menuangkan 50 ml NaOH ke dalam buret dan menuangkan 25 ml HCl ke dalam erlenmeyer yang telah ditetesi PP. Setelah, menunggu beberapa menit, tetes demi tetes yang NaOH dari buret ke dalam erlenmeyer yang terdapat HCl mulai merubah warna HCl tersebut menjadi pink keunguan. Lalu, didapatkan volume titrasi pertama sebanyak 5,5 ml NaOH.
Titrasi ke II
HCl 25 ml  dimasukkan ke dalam gelas erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 5 tetes PP. NaOH (0,5 M) 50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 5 ml dan warnanya pink.
Titrasi III
HCl 25 ml dimasukkan ke dalam gelas Erlenmeyer, kemudian  ditambahkan 5 tetes PP. NaOH (0,5 M)  50 ml dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai, dan didapatkan volume titrasinya 6 ml dan warnanya Pink.
8.    Jawaban pertanyaan
Dari data diatas dapat kita hitung atau tentukan molaritas HCl, sebagai berikut :
V1 = HCL   = 25 ml
V2 = NaOH            = 5,5 ml→ rata-rata volume NaOH
M2 = NaOH            = 0,5 M
V1 . M1 = V2 . M2
25 . M1 = 5,5 . 0,5
       M1 = 0,11 M
9.    Kesimpulan
1)   Titik ekuivalen adalah titik dimana konsentrasi asam sama dengan konsentrasi basa (habis bereaksi) atau titik dimana jumlah basa yang ditambahkan sama dengan jumlah asam yang dinetralkan yang disertai perubahan warna indikator.
2)   Titik akhir titrasi adalah keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indikator.
3)   Indikator PP perlu ditambahkan kedalam larutan karena supaya mengetahui perubahan warna yang terjadi pada titik ekivalen.
10.              Lampiran